Rasanya aku sudah lupa saat-saat terakhir menulis. Kala itu,
aku masih belasan tahun. Aku menulis, menggambar, dan mendongeng. Tulisanku sederhana, tidak jauh dari polemik
cinta, kasih di sekolah, dan kritik terhadap pada kebijakan pesantren.
Apa yang aku tulis hanya berkutat apa yang ku ketahui. Seperti
kata bung Pramoedya Ananta Toer “tulislah apa-apa yang
kamu lihat saja”. Itulah yang selalu aku tanamkan dalam
alam bawah sadarku.
Selain itu, aku menggambar. Gambarku tak jelek hanya sedikit jauh dari
kata bagus. Walau begitu, tak sedikit dari kawan-kawan yang mengagumi gambarku.
Mereka bilang aku berbakat dalam manga, tapi
gambarku dibilang vulgar. Karena objek gambarku lebih sering wanita-wanita menawan.
Memang benar adanya, aku suka menggambar wanita. Bagiku wanita
adalah keindahan yang sesungguhnya. Mereka merupakan bagian dari seni tertinggi
yang Tuhan ciptakan. Bayangkan saja, sebatang rusuk dapat Ia ukir menjadi
sesosok makhluk indah yang disebut wanita.
Oh, wanita! Hanya karena kedipanmu saja, makhluk Tuhan lain bisa lupa penciptanya.