Minggu, 04 November 2012

filsafat


SOCRATES
Susanti (E01210009)

A.  Pendahuluan
Sekitar abad ke-5 SM Athena diramaikan dengan aliran baru yang menggembor-gemborkan Relativisme kebenaran, yakni aliran Sofisme. Kemunculan mereka berkaitan erat dengan perkembangan kota Athena yang makmur danmenjalankan kehidupan demokrasi yang bebas.
Diantara tokoh filsafat dari alira Sofis adalah Protagoras, ia mengatakan, manusia adalah ukuran segalanya, jika manusia menganggapnya demikian maka demikianlah adanya, dan jika tidak demikian maka tidak demikian pula. Dimana maksud dari perkataan Protagoras tersebut secara umum adalah kebenaran tidaklah bergantung pada isi, melainkan kebenaran bergantung pada bagaimana cara penyampaiannya,
Ditengah huru-hara yang demikian, yakni baik bias tampak jahat bila salah menyampaikan atau salah akan tampak benar ketika benar penyampaiannya. Maka muncullah seorang tokoh filsafat yang sederhana namunpemikirannya luar biasa, yakni Socrates. Ia mencoba untuk member alternatife baru dimana adanya kebenaran obyektif.
B.   Riwayat Hidup Socrates
Socrates hidup sekitar tahun 479 SM sampai dengan 399 SM. Dia lahir di Athena dari hasil pernikahan antara Sopronicus dengan Phaenarete. Socrates konon berasal dari keluarga kaya raya. Ayahnya seorang pemahat, sedangkan ibunya adalah seorang bidan. Pada mulanya Socrates ingin mengikuti jejak ayahnya sebgai pemahat batu, namun ia berubah haluan menjadi pembentuk kepribadian manusia.
 Socrates menikah dengan Xanthippe sekitar sepuluh tahun pertama perang Pelopponesia.[1] Konon istri Socrates memiliki perangai yang kasar. Dari pernikahannya bersama Xanthippe Socrates dikaruniai tiga orang anak.
Socrates dikenal sebagai orang yang berbudi luhur, baik, jujur, dan adil. Sehingga banyak orang yang mencintai dan menghormatinya. Disisi lain tidak dipungkiri pula bila Socrates juga banyak dibenci orang. Ini dikarenakan beberapa sebab, diantaranya yakni ai dituduh merusak moral para pemuda. Socrates juga dibenci karena menihilkan dewa-dewa yang saat itu dipercaya masyarakat  Athena.
Tak hayal dari tuduhan tersebut Socrates dihadapkan pada pengadilan Athena. Dalam proses pengadilan, ia mengatakan pembelaannya yang kemudian ditulis oleh Plato dalam naskahnya berjudul Apologi.[2]Peradilan Socrates bertambah berat ketika seorang yang bernama Melitus mendakwanya tidak hanya menafikan Tuhan masyakat Athena, ia juga menuduh Socrates adalah orang yang tidak bertuhan, dan menambahkan bahwa Socrates berkata matahari batu dan bulan adalah tanah. Lantas dalam proses peradilan Socrates didakwa bersalah dan dijatuhi hukuman mati.
C.   Pemikiran Socrates
Sebenarnya kemunculan filsafat Socrates dibumi Athena merupakan alternatife baru bagi pemikiran Athena yang sedang dikuasai oleh aliran sofisme. Socrates tidak sependapat dengan ajaran guru-guru kaum sofis yang merrelatifkan kebenaran bahkan menafikan kebenaran.
Socrates kemudian merumuskan falsafahnya tentang adanya kebenaran obyektif, yakni tidak bergantung pada aku dan kita. Untuk membenarkan kebenaran yang obyektif Socrates menggunakan metoda dialektika (bercakap-cakap atau berdiskusi)
Dialog merupakn jalan yang ditempuh Socrates. Ia berjalan keseluruh pelosok kota Athena, pasar-pasar, took-toko, dan semua tempat keramaian untuk diajaknya berdialok. Tidak hanya itu Socrates juga bertanya pada negarawan, hakim, pedagang, dan siapa saja yang dapat ditanya. Pertanyaanya seputar benar-salah, adil-zalim, berani pengecut, dan lain sebagainya.
Metoda dialog Socrates bermula dari “induksi” untuk menemukan definisi. Definisi ini membentuk suatu pengertian umum.[3]Induksi menurut Socrates adalah membandingkan secara kritis. Dari dialog Socrates jawaban pertama dijadikan hipotesis dan jawaban yang lebih lanjut ia akan menarik konsekuensi yang yang dapat disimpulkan dari jawaban tersebut.
Dari lawannya berdialektika Socrates meminta definisi mengenai apa yang sedang dibicarakan menurut keahliannya tersebut. Kemudian pengertian yang diperolehnya diuji silang dengan kehidupan nyata. Bila tidak sesuai untuk diterapkan dengan kehidupan nyata maka kan dicari definisi lain dengan cara sama untuk mencapai kesempurnaan.
Disisi lain metoda diakletika yang sangat terkenal dari Socrates adalah metoda dialektika elensis (dialektika negative).  Dimana Soctares memberikan pertanyaan kemudian setelah mendapat jawaban, ia kembali mempertanyakan jawaban tersebut. Setelah ia mendapat sanganggahan dari orang yang ditanya tersebut, Socrates kembli melontarkan pertanyaan. Disini Socrates tidak kemenangan, melainkan ia hanya ingin mengajarkan kepada manusia agar sadar akan dirinya dan mengajarka kepada manusia akan arti sebuah kejujuran.
Mengenai metoda Socrates Filhips menuliskan.[4]
1.    Metoda Sorates bisa sebagai metoda elenchus, artinya penyelidikan atau uji silang. Melalui penyelidikan seseorang akan secara jujur memeriksa kesadaran yang disadarinya dan melihat konsekuensi yang dihasilkan dari kesadaran itu. Jika ternyata konsekuensinya mengarah pada ketidakbahagiaan, keyakinan itu harus dirumuskan kembali.
2.    Dialog Socrates meminta kita untuk secara rela memeriksa seluruh kebenaran yang selama ini kita yakini, juga segala hal yang selama ini kita anggap remeh.
3.     Dialog Socrates menegaskan bahwa kearifan tidak bisa dilakukan sendirian.
4.    Untuk mencapai dialok model Socrates dibutuhkan kejujuran dari semua pesreta dialog.

D.   Kesimpulan
Socrates hidup sekitar abad ke-5 ditengah huru-hara aliran sofis. Sebenarnya Socrates setuju bahwa pada manusialah memiliki pengetahuan dan kemauan, namun ia tidak setuju dengan ajaran-ajaran guru sofis yang merelatifkan kebenaran.
Socrates mengenalkan metoda dialog pada saat itu, ia berjalan menyusuri segala pelosok untuk mengajak setiap orang berdialog. Mulai daripedagang hingga hakim diajaknya berdialog apa saja. Diantara hal  yang dipertanyakan Socrates ialah tentang benar-salah, baik-buruk dan lain sebagainya.
Dari seluruh metod-metoda Socrates lainnya kesemunya mengajarkan kepada kita agar senantiasa jujur terhadap diri kita sendiri,memeriksa kembli hal-hal yang selama ini kita yakini kebenarannya dan memeriksa ulang hal-hal yang selama ini kita anggap remeh. Selain itu Socrates juga mengajarkan tentang kebersamaan, diamana kearifan menurutnya tidak bisa dicapai dengan sendirian.



DAFTAR PUSTAKA



Blikololong J. B, Pengantar Filsafat. Jakarta: Universitas Gunadarma, 1997.
Hakim Abdul Atang dan Beni Ahmad Saebani, Filsafat Umum dari Metologi sampai Teofilosofi. Bandung: Pustaka Setia, 2008.
Q-Anees Bambang dan Radea Juli A. Hambali, Filsafat untuk Umum. Jakarta: Kencana, 2003.







































[1] J. B. Blikololong, Pengantar Filsafat (Jakarta: Universitas Gunadarma, 1997), 75.
[2] Atang Abdul Hakim dan Beni Ahmad Saebani, Filsafat Umum dari Metologi sampai Teofilosofi (Bandung: Pustaka Setia, 2008), 178.
[3] Bambang Q-Anees dan Radea Juli A. Hambali, Filsafat untuk Umum (Jakarta: Kencana, 2003), 155.
[4] Bambang Q-Anees dan Radea Juli A. Hambali, Filsafat untuk…, 160.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar