SOCRATES
Susanti (E01210009)
A.
Pendahuluan
Sekitar abad ke-5 SM
Athena diramaikan dengan aliran baru yang menggembor-gemborkan Relativisme
kebenaran, yakni aliran Sofisme. Kemunculan mereka berkaitan erat dengan
perkembangan kota Athena yang makmur danmenjalankan kehidupan demokrasi yang
bebas.
Diantara tokoh filsafat
dari alira Sofis adalah Protagoras, ia mengatakan, manusia adalah ukuran
segalanya, jika manusia menganggapnya demikian maka demikianlah adanya, dan
jika tidak demikian maka tidak demikian pula. Dimana maksud dari perkataan
Protagoras tersebut secara umum adalah kebenaran tidaklah bergantung pada isi,
melainkan kebenaran bergantung pada bagaimana cara penyampaiannya,
Ditengah huru-hara yang
demikian, yakni baik bias tampak jahat bila salah menyampaikan atau salah akan
tampak benar ketika benar penyampaiannya. Maka muncullah seorang tokoh filsafat
yang sederhana namunpemikirannya luar biasa, yakni Socrates. Ia mencoba untuk
member alternatife baru dimana adanya kebenaran obyektif.
B.
Riwayat Hidup Socrates
Socrates hidup sekitar
tahun 479 SM sampai dengan 399 SM. Dia lahir di Athena dari hasil pernikahan
antara Sopronicus dengan Phaenarete. Socrates konon berasal dari keluarga kaya
raya. Ayahnya seorang pemahat, sedangkan ibunya adalah seorang bidan. Pada
mulanya Socrates ingin mengikuti jejak ayahnya sebgai pemahat batu, namun ia
berubah haluan menjadi pembentuk kepribadian manusia.
Socrates menikah dengan Xanthippe sekitar
sepuluh tahun pertama perang Pelopponesia.[1] Konon istri Socrates memiliki
perangai yang kasar. Dari pernikahannya bersama Xanthippe Socrates dikaruniai
tiga orang anak.
Socrates dikenal sebagai
orang yang berbudi luhur, baik, jujur, dan adil. Sehingga banyak orang yang
mencintai dan menghormatinya. Disisi lain tidak dipungkiri pula bila Socrates
juga banyak dibenci orang. Ini dikarenakan beberapa sebab, diantaranya yakni ai
dituduh merusak moral para pemuda. Socrates juga dibenci karena menihilkan
dewa-dewa yang saat itu dipercaya masyarakat
Athena.
Tak hayal dari tuduhan
tersebut Socrates dihadapkan pada pengadilan Athena. Dalam proses pengadilan,
ia mengatakan pembelaannya yang kemudian ditulis oleh Plato dalam naskahnya
berjudul Apologi.[2]Peradilan
Socrates bertambah berat ketika seorang yang bernama Melitus mendakwanya tidak
hanya menafikan Tuhan masyakat Athena, ia juga menuduh Socrates adalah orang
yang tidak bertuhan, dan menambahkan bahwa Socrates berkata matahari batu dan
bulan adalah tanah. Lantas dalam proses peradilan Socrates didakwa bersalah dan
dijatuhi hukuman mati.
C.
Pemikiran Socrates
Sebenarnya kemunculan
filsafat Socrates dibumi Athena merupakan alternatife baru bagi pemikiran
Athena yang sedang dikuasai oleh aliran sofisme. Socrates tidak sependapat
dengan ajaran guru-guru kaum sofis yang merrelatifkan kebenaran bahkan
menafikan kebenaran.
Socrates kemudian
merumuskan falsafahnya tentang adanya kebenaran obyektif, yakni tidak
bergantung pada aku dan kita. Untuk membenarkan kebenaran yang obyektif
Socrates menggunakan metoda dialektika (bercakap-cakap atau berdiskusi)
Dialog merupakn jalan yang
ditempuh Socrates. Ia berjalan keseluruh pelosok kota Athena, pasar-pasar,
took-toko, dan semua tempat keramaian untuk diajaknya berdialok. Tidak hanya
itu Socrates juga bertanya pada negarawan, hakim, pedagang, dan siapa saja yang
dapat ditanya. Pertanyaanya seputar benar-salah, adil-zalim, berani pengecut,
dan lain sebagainya.
Metoda dialog Socrates
bermula dari “induksi” untuk menemukan definisi. Definisi ini membentuk suatu
pengertian umum.[3]Induksi
menurut Socrates adalah membandingkan secara kritis. Dari dialog Socrates
jawaban pertama dijadikan hipotesis dan jawaban yang lebih lanjut ia akan
menarik konsekuensi yang yang dapat disimpulkan dari jawaban tersebut.
Dari lawannya
berdialektika Socrates meminta definisi mengenai apa yang sedang dibicarakan
menurut keahliannya tersebut. Kemudian pengertian yang diperolehnya diuji
silang dengan kehidupan nyata. Bila tidak sesuai untuk diterapkan dengan
kehidupan nyata maka kan dicari definisi lain dengan cara sama untuk mencapai
kesempurnaan.
Disisi lain metoda
diakletika yang sangat terkenal dari Socrates adalah metoda dialektika elensis
(dialektika negative). Dimana Soctares
memberikan pertanyaan kemudian setelah mendapat jawaban, ia kembali
mempertanyakan jawaban tersebut. Setelah ia mendapat sanganggahan dari orang
yang ditanya tersebut, Socrates kembli melontarkan pertanyaan. Disini Socrates
tidak kemenangan, melainkan ia hanya ingin mengajarkan kepada manusia agar
sadar akan dirinya dan mengajarka kepada manusia akan arti sebuah kejujuran.
Mengenai metoda Socrates
Filhips menuliskan.[4]
1.
Metoda Sorates bisa sebagai metoda elenchus, artinya
penyelidikan atau uji silang. Melalui penyelidikan seseorang akan secara jujur memeriksa
kesadaran yang disadarinya dan melihat konsekuensi yang dihasilkan dari
kesadaran itu. Jika ternyata konsekuensinya mengarah pada ketidakbahagiaan,
keyakinan itu harus dirumuskan kembali.
2.
Dialog Socrates meminta kita untuk secara rela memeriksa seluruh
kebenaran yang selama ini kita yakini, juga segala hal yang selama ini kita
anggap remeh.
3.
Dialog Socrates
menegaskan bahwa kearifan tidak bisa dilakukan sendirian.
4.
Untuk mencapai dialok model Socrates dibutuhkan kejujuran
dari semua pesreta dialog.
D.
Kesimpulan
Socrates hidup sekitar
abad ke-5 ditengah huru-hara aliran sofis. Sebenarnya Socrates setuju bahwa
pada manusialah memiliki pengetahuan dan kemauan, namun ia tidak setuju dengan
ajaran-ajaran guru sofis yang merelatifkan kebenaran.
Socrates mengenalkan
metoda dialog pada saat itu, ia berjalan menyusuri segala pelosok untuk
mengajak setiap orang berdialog. Mulai daripedagang hingga hakim diajaknya
berdialog apa saja. Diantara hal yang
dipertanyakan Socrates ialah tentang benar-salah, baik-buruk dan lain
sebagainya.
Dari seluruh metod-metoda
Socrates lainnya kesemunya mengajarkan kepada kita agar senantiasa jujur
terhadap diri kita sendiri,memeriksa kembli hal-hal yang selama ini kita yakini
kebenarannya dan memeriksa ulang hal-hal yang selama ini kita anggap remeh.
Selain itu Socrates juga mengajarkan tentang kebersamaan, diamana kearifan
menurutnya tidak bisa dicapai dengan sendirian.
DAFTAR PUSTAKA
Blikololong
J. B, Pengantar Filsafat. Jakarta: Universitas Gunadarma, 1997.
Hakim Abdul Atang
dan Beni Ahmad Saebani, Filsafat Umum dari Metologi sampai Teofilosofi. Bandung:
Pustaka Setia, 2008.
Q-Anees
Bambang dan Radea Juli A. Hambali, Filsafat untuk Umum. Jakarta: Kencana, 2003.
[1] J.
B. Blikololong, Pengantar Filsafat (Jakarta: Universitas Gunadarma,
1997), 75.
[2]
Atang Abdul Hakim dan Beni Ahmad Saebani, Filsafat Umum dari Metologi sampai
Teofilosofi (Bandung: Pustaka Setia, 2008), 178.
[3] Bambang
Q-Anees dan Radea Juli A. Hambali, Filsafat untuk Umum (Jakarta:
Kencana, 2003), 155.
[4]
Bambang Q-Anees dan Radea Juli A. Hambali, Filsafat untuk…, 160.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar