PERILAKU INDIVIDU DAN ANALISIS
PERILAKU INDIVIDU MASYARAKAT PEDESAAN DALAM STRATIFIKASI SOSIAL
Makalah
Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata
Kuliah
“Sosiologi”
Oleh:
Susanti (E01210009)
Dosen Pembimbing:
Drs. H.
Kasno, M.Ag
Dr. Abdul
Kadir Riyadi, M.s.sc
FAKULTAS USHULUDDIN
JURUSAN AQIDAH FILSAFAT
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN
AMPEL
SURABAYA
2012
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis penjatkan kehadirat Allah
SWT. Karena rahmat-Nyalah penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Perilaku
individu dalam Stratifikasi Sosial” dengan baik dan benar.
Makalah ini dibuat untuk menyelesaikan tugas
mata kuliah Sosiologi, selain itu tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk memperdalam
wawasan terhadap cangkupan stratifikasi sosial. Salah satu pembahasan yang
sangat penting dalam ilmu kemasyarakatan.
Dalam Penulisan makalah ini penulis merasa
masih banyak kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat
akan kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak
sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Demikianlah makalah ini dibuat semoga
bermanfaat kepada semua pihak dan
khususnya untuk penulis.
Surabaya,
11 Januari 2012
penyusun
Susanti
NIM:
E01210009
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR....................................................................................... i
DAFTAR ISI ... ii
BAB I :
PENDAHULUAN............................................................................ 1
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan
BAB II :
PEMBAHASAN............................................................................... 2
A. Statifikasi
Sosial
B. Individu
dan Masyarakat Desa
C. Perilaku
Individu dalam Stratifikasi Sosial
D. Analisa
Perilaku Individu Masyarakat Pedesaan
dalam Stratifikasi Sosial
BAB III :
KESIMPULAN................................................................................ 22
DAFTAR PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Setiap
masyarakat senantiasa memiliki penghargaan tertentu terhadap hal tertentu dalam
suatu lingkup masyarakat tertentu. Dimana, penempatan penghargaan tertentu
tersebut akan menimbulkan penempatan kedudukan yang tinggi dari yang lainnya.
Misalnya saja penghargaan tersebut dalam bidang kekayaan, maka mereka yang
memiki kekayaan yang berlimpah akan menempati kedudukan yang lebih tinggi di
bandingkan yang lain. Hal-hal tersebutlah yang akan menimbulkan pembedaan
posisi atau kelompok dalam kedudukan yang bebeda dan pada akhirnya menimbulkan
lapisan dalam masyarakat, yang lebih kita kenal dengan kata-kata stratifikasi
sosial.
Dalam
suatu masyarakat sendiri merupakan cakupan dari beberpa individu yang
berkelompok. Individu juga merupakan seorang manusia yang tidak hanya memiliki
peranan khas dalam lingkungan sosialnya, melainkan juga memiliki pola tingkah
laku yang spesifik dari pribadinya. Maka disadari atau tidak, stratifikasi akan
sangat berpengaruh pada perilaku individu. Baik secara psikis atau non psikis.
B.
Rumusan Masalah
1. Apa
Pengertian Stratifikasi soasial.
2. Apa
Pengertian Individual dan Masyarakat Desa.
3. Apa
Perilaku Individu dalam Stratifikasi Sosial.
4. Bagaimana
Analisisa Perilaku Individu Masyarakat Desa dalam Stratifikasi Sosial
C.
Tujuan
1.
Mengetahui Pengertian Stratifikasi
Sosial.
2.
Mengetahui Pengertian Individual dan
Masyarakat Desa.
3.
Mengetahui Perilaku individu dalam
Stratifikasi Sosial.
4.
Mengetahui Analisisa Perilaku Individu
Masyarakat Desa dalam Stratifikasi Sosial
BAB II
PEMBAHSAN
A.
Stratifikasi
Kata
stratifikasi merupakan terjemahan dari stratification (bahasa inggris) yang
bermakna lapisan. Kata stratification sendiri berasal dari bahasa latin
‘stratum’ atau strata yang bermakna lapisan. Stratifikasi juga digunakan untuk
menunjukan kelas atau lapisan yang ada dalam masyarakat.[1]
Sedangkan
secara terminologi, Stratifikasi sosial adalah penggolongan orang-orang yang
termasuk dalam suatu sistem sosial tertentu kedalam lapisan-lapisan hierarkis
menurut dimensi kekuasaan, privelese, dan prestise.[2]
Dan berikut adalah penjabaran stratifikasi sosial menurut beberapa tokoh.
Pitrim
A. Sorokin, stratifikasi sosial adalah pembedaan penduduk atau masyarakat ke
dalam kelas-kelas secara bertingkat, yang diwujudkan dalam kelas tinggi, kelas
sedang, dan kelas rendah. Dasar dan inti sistem stratifikasi masyarakat adalah
adanya ketidakseimbangan pembagian hak dan kewajiban, serta tanggung jawab
individu-individu atau kelompok-kelompok dalam sistem sosial.
Paul
B. Horton dan Chester L. Hunt, stratifikasi yakni sistem perbedaan status yang
berlaku dalam suatu masyarakat.
Soerjono Soekanto, kata stratification berasal dari kata stratum (jamaknya: strata yang berarti lapisan), stratifikasi
sosial atau lapisan masyarakat merupakan pembedaan posisi seorang atau suatu
kelompok dalam kedudukan yang berbeda-beda secara vertikal.[3]
Dalam
buku Sosiologi karangan Duncan Mitchel, stratifikasi sosial menurut Karl Mark
adalah suatu fenomena yang terjadi sejak dulu kala mengenai pengelompokan
berdasarkan kelas sosialnya. Selanjutnya, Karl Mark bahwa Eropa terbagi dalam masyarakat yang
mempunyai struktur kelas; dalam abad pertengahan, masyarakat terbagi atas
beberapa estate, estate merupakan
suatu bentuk piramid yang lebar pangkalnya dengan raja berada pada puncaknya.[4]
Stratifikasi dapat terjadi dengan sendirinya
sebagai bagian dari proses pertumbuhan masyarakat, juga dapat dibentuk untuk
tercapainya tujuan bersama. Faktor yang menyebabkan stratifikasi sosial dapat
tumbuh dengan sendirinya adalah kepandaian, faktor usia, harta, dan
sistem kekerabatan. Dan stratifikasi yang terjadi sebab dibentuk untuk tujuan
bersama, yanki semisal pembentukan organisasi dalam suatu masyarakat. Dan dari
kedua pembentukan tersebut maka akan memunculkan jenis stratifikasi yang akan
dijelaskan dibawah.
1.
Jenis Stratifikasi Sosial
a. Stratifikasi yang Terjadi dengan Sendirinya
Bedasarkan .
1)
Age Statification
Dalam stratifikasi berdasarkan usia ini,
dimana anggota masyarakat yang berusia dini mendapatkan perbedaan hak dan
kewajiban dari masyarakat yang berusia lebih tua. Bahkan dalam masyarakat
tertentu, anak sulung mempunyai posisi yang lebih dibanding anak sulung.
2)
Senioritas
Dalam pembahsan senioritas ini
menyangkut usia dan jenjang lamanya pengalaman dalam masyarakat sosial
tertentu. Dalam dunia kelembagaan misalnya, secara tidak langsung ada
bagian-bagian kepemimpinan lembaga akan diisi oleh orang yang lebih tua atau
berpengalaman luas.
3)
Sex Stratificaton
Perbedaan jenis kelamin juga sangat
mempengaruhi perbedaan status, ini juga sangat dipengaruhi oleh tradisi dan
ajaran harkat dan martabat pria dan wanita.
3)
Sistem Kekerabatan
Pada umumnya dalam suatu kekerabatan
terdapat perbedaan hak dan kewajiaban antara ayah, ibu, kakak, dan adik
misalnya. Maka dari situ akan timbul status sosial yang berbeda-beda yang
bersangkutan dengan hak dan kewajibannya.
b.
Stratifikasi yang Dibentuk untuk Tujuan Bersama
1)
Stratifikasi dalam Pekerjaan
Dalam stratifkikasi ini sangat tampak
pada instansi atau organisasi yang kelola secara modern. Misalnya saja ada bos
dengan bawahan, dosen dengan asisten dosen, dan lain sebagainya.
2)
Stratifikasi dalam Bidang Ekonomi
Dalam hal ekonomi inilah stratifikasi
sangat menonjol di setiap masyarakat. Sebab kebanyakan dari masyarakat
dimanapun berada menganggap akan terjadinya pembedaan stratifikasi sosial
berdasarkan kekayaan dan material.
3)
Stratifikasi dalam Pendidikan
Bagi orang yang mampu menyelesaikan
pendidikan formalnya hingga tuntas, maka akan mendapat hak dan kewajiban yang
lebih beragam dibandingkan denganorang yang hanya menamatkan pendidikannya
ditingkat dasar. Dan dari situlah akan menentukan kelas sosial yang mereka
tempati.
stratifikasi
sosial ini sangat luas sebab stratifikasi sosial tersebut meliki beberapa
fungsi. Diantaranya,
1.Untuk
memberikan kemudahan dalam pembagian kerja yang jelas, sehingga memudahkan
masing-masing individu menjalankan tugas-tugasnya,
2. Untuk
memudahkan dalam pemberian penghargaan baik dalam bentuk uang, prestise maupun
kekuasaan.
3. Sebagai
fungsi sosial untuk memperoleh kedudukannya tidak berdasarkan atas dasar
reward.
Dari uraian
diatas dapat dikatakan, secara umum stratifikasi
adalah suatu sistem pengkelasan manusia dalam beberapa lapisan. Yang didasarkan
pada kedudukan yang diperoleh melalui serangkaian usaha dan kepiawaian
seseorang dalam melangsungkan interaksi dan beberapa fungsi di dalam
masyarakat. Dan setiap masyarakat dimana pun yang berada dalam suatu lingkup
geografi dan budaya tertentu pada dasarnya memiliki struktur sosial yang
berbeda satu sama lainnya.
B. Individu dan Masyarakat
1.
Individu
Kata “individu” berasal dari kata latin,
yaitu individuum, berarti “yang tak
terbagi”.[5] Dalam
bahasa Perancis, yakni indivire
berarti makhluk individual yang tidak dapat dibagi lagi. [6]
Secara istilah individu adalah seorang
manusia yang tidak hanya memiliki peranan-peranan yang khas di lingkungan
sosialnya, melainkan juga mempunyai kepribadian serta pola tingkah laku
spesifik tentang dirinya.[7]Sedangkan
dalam kamus bahasa Indonesia yang sudah diperbaharui, individu berarti
persorangan atau seorang diri.[8]
Jadi, kata individu tersebut merupakan
penyebutan yang dipakai untuk menyatakan suatu kesatuan yang paling kecil dan
terbatas atau penyebutan bagi pribadi perorangan. Walaupun demikian, individu bukan berarti
manusia sebagai suatu keseluruhan yang
tak dapat dibagi, melainkan sebagai kesatuan yang terbatas. Yaitu, sebagai manusia
perorangan. Dimana dalam berbagai hal bersama-sama satu dengan lain, namun
dalam banyak hal banyak pula perbedaannya.
Dalam pembahasan ilmu sosial paham
individu menyangkut tabiatnya dengan kehidupan jiwa yang majemuk, yakni
memegang peranan dalam pergaulan hidup manusia.
Dalam pembahasan lebih jauh individu
juga terdiri dari dua dimensi, yaitu fisik dan psikis. Dan tiap dimensi pada
dasarnya memiliki potensi lahiriah dan potensi batiniah. Potensi lahiriah yang
mengacu pada potensi fisik dapat berupa gerakan anggota badan, pancaindera, dan
lain-lainya, sedangkan potensi batiniah mengacu potensi psikis dapat berupa
inteligensi, emosi, dan lain-lain.[9]
Individu juga merupakan seorang manusia
yang tidak hanya memiliki peranan khas dalam lingkungan sosialnya, melainkan
juga memiliki pola tingkah laku yang spesifik dari pribadinya. Individu dalam
bertingkah laku menurut pola pribadinya, ada tiga kemungkinan: menyimpang dari
norma kolektif, kehilangan indivisualitasnya atau takluk pada kolektif, dan
mempengaruhi masyarakat seperti adanya tokoh pahlawan atau pengacau.[10]
Individu juga dalam hubungannya dengan
manusia lain, kadangkala membawa misi pribadi dan kepentingan pribadi. Namun,
ia harus membatasi kepentingan yang tidak yang tidak sejalan dengan kepentingan
orang lain agar tidak terjadi konflik atau pertentangan yang akhirnya mengarah
pada missosialisasi.[11]
C. Masyarakat
Berikut di bawah ini adalah beberapa pengertian masyarakat secara umum dari
beberapa ahli sosiologi dunia.
1. Menurut
Selo Sumardjan masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama dan
menghasilkan kebudayaan.
2. Menurut
Karl Marx masyarakat adalah suatu struktur yang menderita suatu ketegangan
organisasi atau perkembangan akibat adanya pertentangan antara
kelompok-kelompok yang terbagi secara ekonomi.
3. Menurut
Emile Durkheim masyarakat merupakan suau kenyataan objektif pribadi-pribadi
yang merupakan anggotanya.
4. Menurut
Paul B. Horton & C. Hunt masyarakat merupakan kumpulan manusia yang relatif
mandiri, hidup bersama-sama dalam waktu yang cukup lama, tinggal di suatu
wilayah tertentu, mempunyai kebudayaan sama serta melakukan sebagian besar
kegiatan di dalam kelompok atau kumpulan manusia tersebut.
Dorongan masyarakat yang dibina sejak lahir akan selalu menampakkan
dirinya dalam berbagai bentuk, seperti bersosialisasi, meningkatkan diri pada
anggota kelompoknya, dan lain sebagainya. Ini disebabkan tiap individu yang
lahir kedunia ini telah memiliki atau membawa dorongan kemasyarakatan, dengan
sendirinya ia selalu bermasyarakat dalam kehidupannya.[12]
Sedangakan pengertian masyarakat pedesaan menurut Sutardjo Kartodikusuma
mengemukakan sebagai berikut: Desa adalah suatu kesatuan hukum dimana bertempat
tinggal suatu masyarakat pemerintahan tersendiri.[13]Menurut
Bintaro, desa merupakan perwujudan atau kesatuan goegrafi ,sosial, ekonomi,
politik dan kultur yang terdapat ditempat itu (suatu daerah), dalam hubungan
dan pengaruhnya secara timbal balik dengan daerah lain.
Dalam UU Nomor 32 Tahun 2004 disebutkan pengertian desa sebagai kesatuan
masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah, yang berwenang untuk mengatur dan
mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat
istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam system pemerintahan Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
Dari defenisi tersebut, sebenarnya desa merupakan bagian vital bagi
keberadaan bangsa Indonesia. Vital karena desa merupakan satuan terkecil dari
bangsa ini yang menunjukkan keragaman Indonesia. Selama ini terbukti keragaman
tersebut telah menjadi kekuatan penyokong bagi tegak dan eksisnya bangsa.
Dengan demikian penguatan desa menjadi hal yang tak bisa ditawar dan tak bisa
dipisahkan dari pembangunan bangsa ini secara menyeluruh.
C. Perilaku Individu dalam
Stratifikasi Sosial
Seperti
yang telah ketahui bahwa stratifikasi sosial merupakan pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam
kelas-kelas secara bertingkat (secara hierarkis). Yang perwujudannya adalah
adanya kelas-kelas tinggi dan kelas yang lebih rendah. Dan yang perlu digaris
bawahi adalah perilaku individu dalam stratifikasi. Dimana, individu merupakan
aktor utama dalam stratifikasi sosial sebab individu adalah anggota dari
kelas-kelas sosial.
Stratifikasi akan membentuk perilaku individu dalam
masyarakat sosial. Dimana, perilaku adalah suatu antar hubungan yang nyata
antara rangsangan (stimuli) dan tanggapan (response) yang menyebabkan organisme
bereaksi dengan cara yang sama bila rangsangan terjadi sesuatu.[14]
Esensi dari
stratifikasi sosial itu sendiri adalah setiap individu memiliki beberapa posisi
sosial dan masing-masing individu memerankan beberapa peran. Khususnya di
daerah pedesaan. Layaknya masyarakat kota, dalam masyarakat pedesaan juga
terdapat susunan pejabat dalam lingkupan masyarakat tersebut namun lebih
kompleks. Yakni, ada kepala desa atau lurah, carik, ketua rukun warga, ketua
rukun tetangga, dan kepala keluarga sebagai pemimpin terkecil dalam strata sosial.
Karena individu sebagai aktor utama dalam strtifikasi
sosial seperti yang disebutkan sebelumnya, maka akan menimbulkan
perilaku-perilaku yang muncul dari individu tersebut sebagai respon adanya
stratifikasi sosial tersebut. Sebab stratifikasi atau pengkelasan baik yang
terjadi karena sendirinya atau terjadi sebab disengaja memiliki ideologi yang
sudah melekat pada diri individu dan akan mempengaruhi perilaku individu
tersebut.
Misalnya saja stratifikasi dalam hal pendidikan,
individu yang berpendidikan tinggi akan berperilaku akademis, akan selalu
menjaga ucapannya, dan akan selalu berfikiran positif dalam berbagai hal.
Mereka akan mencoba mencari jalan terbaik untuk memecahkan masalah, baik dengan
negosiasi ataupun dengan cara bermusyawarah. Dan sebaliknya, individu dengan
pendidikan rendah yang notabenya berwawasan sempit akan mudah sekali berfikiran
negatif terhadap sesuatu dan dengan mudahnya pula akan menjastifikasi sesuatu
tanpa mengetahui kejelasanya.
Dari fakta sosial yang banyak terjadi, sistem
stratifikasi sangat berpengaruh pada pada perilaku individu baik secara psikis
maupun non psikis. Dalam hal kekayaan misalnya, perilaku individu dari golongan
mampu akan memiliki gaya hidup yang sangat individual dan sudah sangat mendarah
daging. Sehingga, meminta atau memberi bantuan terhadap yang lainya bukanlah
hal yang terlalu penting bagi mereka. Dan pada akhirnya bila pada suatu saat
tidak dapat membiayai kehidupan mereka, individu tersebut akan mengalami
“mental breakdown” atau semacam keputus asaan.
Lain lagi bagi
individu yang dari golongan menengah kebawah, biasanya memiliki perilaku
bergotong-royong atau saling membutuhkan antara satu individu dengan individu
lainya. Sehingga, timbul kebersamaan dalam mengahdapi sulitnya hidup.
Selain starifikasi sosial dapat mempengaruhi perilaku
individu, stratifikasi sosial juga akan sangat berpengaruh pada sistem sosial
individu tersebut. Seperti contoh, adanya program “orang tua asuh” yang santer
digalakkan pemerintah dan program tersebut mendapat sambutan hangat dari
masyarakat. Hal ini menandakan keluarga dari kelas bawah, sama sekali tidak
bisa membiayai pendidikan anaknya. Itu berarti setiap anak yang dilahirkan dari
keluarga ini , akan mengalami kesulitan pendidikan kalau sekiranya pemerintah
tidak campur tangan. Atau kalau salah seorang anggota keluarga sakit kesar dan
harus dioperasi, besar kemungkinan mereka tidak bisa membiayai obat dan tempat
di rumah sakit. Itu berarti, bahwa kelas sosial dimana mereka berada sekarang
sangat mempengaruhi individu.[15]
D. Analisa
Perilaku Individu Masyarakat Pedesaan
dalam Stratifikasi Sosial
Disamping
itu, fokus dari analisa ini adalah perilaku individu dalam masyarakat pedesaan
khususnya petani. Masyarakat petani sendiri biasanya terbagi menjadi duan,
yakni petani dengan ladang sendiri dan petani yang hanya bekerja pada pemilik
ladang atau yang lebih dikenal dengan sebutan buruh tani. Perbedaan-perbedaan
dibuat atas dasar kepemilikan ladang dan perbedaan-pernedaan ini bukan hanya
menentukan pembagian kerja tetapi mempengaruhi semua perilaku individu
tersebut.
Petani dengan
ladang sendiri biasanya mendapatkan ladang tersebut dari warisan kedua orang
tua, walaupun tak jarang oleh hasil uang mereka sendiri. Dimana, petani dengan
ladang sendiri dapat menentukan sikap atas pilihannya. Petani tersebut
mengetahui bagaimana mengelola sawahnya sendiri sehingga lebih produktif. Dan
bagaimana menyikapi dinamika yang terjadi dalam pasar, kebijakan pemerintah
daerah, dan lain sebagainya. Misalnya, menentukan harga gabah yang sesuai
dengan pasaran. Tidak mahal namun juga tidak terlalu murah. Hal ini penting
dilakukan sebagai seorang petani agar ia tidak rugi dalam menjual hasil
produksinya dan bisa terus berkembang dan mengikuti persaingan pasar yang ada.
Dengan
begitu, akan terbentuk perilaku dari petani pemilik ladang suka bekerja keras dan
sebab memiliki otoritas atas ladang maka tidak jarang petani tersebut berperilaku
dengan sosial tinggi.
Sedangkan
para petani yang tak memiliki ladang sendiri hanya bekerja di waktu-waktu
ketika musim tanam dan musim panen saja. Dari banyak waktu luangnya, buruh tani tersebut akan menimbulkan perilaku
yang kurang kreatif dan hanya menunggu. Sehingga tidak salah bila sebagian
orang berpendapat penyebab kemisikinan masyarakat petani adalah banyaknya
waktu-waktu menunggu.
Sehingga, hal
ini memungkinkan untuk mengklasifikasikan individu-individu tersebut ke dalam
kategori status peran. Dimana stratifikasi sosioal juga harus dilihat sebagai
kenyataan yang memiliki dua sisi, yakni segi subyektif dan segi obyektif.
Dilihat dari segi subyektif ini karena stratifikasi itu sangat erat kaitannya
dengan diri seorang secara subyektif. Itu berarti bahwa stratifikasi sosial
bukan sesuatu yang ada diluar diri individu, melainkan satu dengan dia.[16]
Sedangkan dari segi obyektif, dapat dilihat dari hasil suatu sistem yang
menggolongkan kedalam beberapa lapisan. Misalnya dalam mayarakat pedesaan,
yakni perilaku petani pemilik ladang dan petani yang tidak memiliki ladang.
BAB
III
KESIMPULAN
Stratifikasi sosial adalah pengkelasan, penggolongan, atau pembagian
masyarakat secara vertikal. Dimana, Esensi dari stratifikasi
sosial adalah setiap individu memiliki beberapa posisi sosial dan masing-masing
orang memerankan beberapa peran. Sehingga hal ini memungkinkan untuk
mengklasifikasikan individu-individu tersebut ke dalam kategori status-peran,
dimana perangkingan didasarkan atas posisi relatif dari peran-peran yang mereka
mainkan secara keseluruhan.
stratifikasi
sosial juga merupakan pembedaan
penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (secara
hierarkis). Yang perwujudannya adalah adanya kelas-kelas tinggi dan kelas yang
lebih rendah. Dan yang perlu digaris bawahi adalah perilaku individu dalam
stratifikasi. Dimana, individu merupakan aktor utama dalam stratifikasi sosial
sebab individu adalah anggota dari kelas-kelas sosial.
Karena individu sebagai aktor utama dalam strtifikasi
sosial, maka akan menimbulkan perilaku-perilaku yang muncul dari individu
tersebut sebagai respon adanya stratifikasi sosial tersebut. Sebab stratifikasi
atau pengkelasan baik yang terjadi karena sendirinya atau terjadi sebab
disengaja memiliki ideologi yang sudah melekat pada diri individu dan akan
mempengaruhi perilaku individu tersebut.
Selain
itu, dorongan masyarakat yang dibina sejak lahir akan selalu menampakkan
dirinya dalam berbagai bentuk, seperti bersosialisasi, meningkatkan diri pada
anggota kelompoknya, dan lain sebagainya. Ini disebabkan tiap individu yang
lahir kedunia ini telah memiliki atau membawa dorongan kemasyarakatan, dengan
sendirinya ia selalu bermasyarakat dalam kehidupannya. Khusunya masyarakat
pedesaan.
Selain itu
kesimpulan dari analisis di atas adalah Dari banyak waktu luangnya para petani
khususnya buruh tani, akan menimbulkan perilaku yang kurang kreatif dan hanya
menunggu. Sehingga tidak salah bila sebagian orang berpendapat penyebab
kemisikinan masyarakat petani adalah banyaknya waktu-waktu menunggu.
Daftar Pustaka
Ahmadi,
Abu. 2003. Ilmu Sosial Dasar. Jakarta:
Rineke Cipta.
Darmansyah.
2008. Kamus Bahasa Indonesia. Batavia
Pers.
Darmansyah,
dkk. 1986. Ilmu Sosial Dasar. Surabaya: Usaha Nasional.
Lawang, Robert M. Z. 1994. Pengantar Sosiologi. Jakarta:
Universitas Terbuka.
Mannheim,
Karl. 1986. Sosiologi Sistematis. Jakarta:
Bina Aksara.
Mitchel,
Dutcan (alih bahasa: Sahat Simamora), 1984.
Sosiologi. Jakarta: Bina
Aksara.
Mawardi
dan Nur Hidayati. 2000. IAD, ISD, dan
IBD. Bandung: Pustaka Setia.
Soelaeman,
M. Munandar. 2006. Ilmu Sosial Dasar. Bandung:
Refika Aditama.
Soekanto,
Soerjono. 2010. Sosiologi Suatu Pengantar.
Jakarta: Rajawali Pers.
Saptono,
dan Bambang Suteng Sulasmono. 2007. Sosiologi. Jakarta: PT. Phibeta Aneka
Gama.
Tim
Penyusun MKD IAIN Sunan Ampel Surabaya. 2011. Ilmu Alamiah Dasar-Ilmu Sosial
Dasar-Ilmu Budaya Dasar. Surabaya: IAIN SA
Press.
[1] Saptono
dan Bambang Suteng Sulasmono, Sosiologi
(Jakarta: PT. Phibeta Aneka Gama, 2007), 15.
[2] Robert
M. Z. Lawang, Pengantar Sosiologi
(Jakarta: Universitas Terbuka, 1994), 6.3.
[3] Soerjono
Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar ( Jakarta: Rajawali Pers, 2010), 197.
[4] Dutcan
Mitchel (alih bahasa: Sahat Simamora), Sosiologi
(Jakarta: Bina Aksara, 1984), 156.
[5]M.
Munandar Soelaeman, Ilmu Sosial Dasar (Bandung:
Refika Aditama, 2006), 113.
[6]
Darmansyah dkk, Ilmu Sosial Dasar
(Surabaya: Usaha Nasional, 1986). 68.
[7] Tim
Penyusun MKD IAIN Sunan Ampel Surabaya,
Ilmu Alamiah Dasar-Ilmu Sosial Dasar-Ilmu Budaya Dasar (Surabaya: IAIN
SA Press, 2011), 81.
[8]
Darmansyah, Kamus Bahasa Indonesia (
Batavia Pers, 2008),
[9]Mawardi
dan Nur Hidayati, IAD, ISD, dan IBD (Bandung:
Pustaka Setia, 2000), 207.
[10] M.
Munandar Soelaeman, Ilmu Sosial...114.
[11] Mawardi
dan Nur Hidayati, IAD, ISD...218.
[12] Mawardi
dan Nur Hidayati, IAD, ISD...217.
[13] Abu
Ahmadi, Ilmu Sosial Dasar, (Jakarta:
Rineke Cipta, 2003), 241.
[14] Karl
Mannheim, Sosiologi Sistematis
(Jakarta: Bina Aksara, 1986), 8.
[15] Robert
M. Z. Lawang, Pengantar Sosiologi...9.16.
[16] Robert
M. Z. Lawang, Pengantar Sosiologi...,
6.4.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar