Kamis, 01 November 2012

Stratifikasi Sosial


PERILAKU INDIVIDU DAN ANALISIS PERILAKU INDIVIDU MASYARAKAT PEDESAAN DALAM STRATIFIKASI SOSIAL
Makalah
Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
“Sosiologi”
Oleh:
Susanti  (E01210009)
Dosen Pembimbing:
Drs. H. Kasno, M.Ag
Dr. Abdul Kadir Riyadi, M.s.sc
FAKULTAS USHULUDDIN
JURUSAN AQIDAH FILSAFAT
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA
2012




KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis penjatkan kehadirat Allah SWT. Karena rahmat-Nyalah penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Perilaku individu dalam Stratifikasi Sosial” dengan baik dan benar.
             Makalah ini dibuat untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Sosiologi, selain itu tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk memperdalam wawasan terhadap cangkupan stratifikasi sosial. Salah satu pembahasan yang sangat penting dalam ilmu kemasyarakatan.
Dalam Penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Demikianlah makalah ini dibuat semoga bermanfaat kepada semua pihak dan  khususnya untuk penulis.



Surabaya, 11 Januari 2012
       penyusun

                                                                                Susanti
                                                                               NIM: E01210009









DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................... i
DAFTAR ISI                                                                                                 ... ii
BAB I      : PENDAHULUAN............................................................................ 1
A.  Latar Belakang     
B.  Rumusan Masalah 
C.  Tujuan                   
BAB II    : PEMBAHASAN............................................................................... 2
A.  Statifikasi Sosial   
B.  Individu dan Masyarakat Desa
C.  Perilaku Individu dalam Stratifikasi Sosial
D.  Analisa Perilaku  Individu Masyarakat Pedesaan dalam Stratifikasi Sosial
BAB III   : KESIMPULAN................................................................................ 22
DAFTAR PUSTAKA



BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Setiap masyarakat senantiasa memiliki penghargaan tertentu terhadap hal tertentu dalam suatu lingkup masyarakat tertentu. Dimana, penempatan penghargaan tertentu tersebut akan menimbulkan penempatan kedudukan yang tinggi dari yang lainnya. Misalnya saja penghargaan tersebut dalam bidang kekayaan, maka mereka yang memiki kekayaan yang berlimpah akan menempati kedudukan yang lebih tinggi di bandingkan yang lain. Hal-hal tersebutlah yang akan menimbulkan pembedaan posisi atau kelompok dalam kedudukan yang bebeda dan pada akhirnya menimbulkan lapisan dalam masyarakat, yang lebih kita kenal dengan kata-kata stratifikasi sosial.
Dalam suatu masyarakat sendiri merupakan cakupan dari beberpa individu yang berkelompok. Individu juga merupakan seorang manusia yang tidak hanya memiliki peranan khas dalam lingkungan sosialnya, melainkan juga memiliki pola tingkah laku yang spesifik dari pribadinya. Maka disadari atau tidak, stratifikasi akan sangat berpengaruh pada perilaku individu. Baik secara psikis atau non psikis.
B. Rumusan Masalah
1.    Apa Pengertian Stratifikasi soasial.
2.    Apa Pengertian Individual dan Masyarakat Desa.
3.    Apa Perilaku Individu dalam Stratifikasi Sosial.
4.    Bagaimana Analisisa Perilaku Individu Masyarakat Desa dalam Stratifikasi Sosial
C. Tujuan
1.    Mengetahui Pengertian Stratifikasi Sosial.
2.    Mengetahui Pengertian Individual dan Masyarakat Desa.
3.    Mengetahui Perilaku individu dalam Stratifikasi Sosial.
4.    Mengetahui Analisisa Perilaku Individu Masyarakat Desa dalam Stratifikasi Sosial

BAB II
PEMBAHSAN

A. Stratifikasi
Kata stratifikasi merupakan terjemahan dari stratification (bahasa inggris) yang bermakna lapisan. Kata stratification sendiri berasal dari bahasa latin ‘stratum’ atau strata yang bermakna lapisan. Stratifikasi juga digunakan untuk menunjukan kelas atau lapisan yang ada dalam masyarakat.[1]
Sedangkan secara terminologi, Stratifikasi sosial adalah penggolongan orang-orang yang termasuk dalam suatu sistem sosial tertentu kedalam lapisan-lapisan hierarkis menurut dimensi kekuasaan, privelese, dan prestise.[2] Dan berikut adalah penjabaran stratifikasi sosial menurut beberapa tokoh.
Pitrim A. Sorokin, stratifikasi sosial adalah pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat, yang diwujudkan dalam kelas tinggi, kelas sedang, dan kelas rendah. Dasar dan inti sistem stratifikasi masyarakat adalah adanya ketidakseimbangan pembagian hak dan kewajiban, serta tanggung jawab individu-individu atau kelompok-kelompok dalam sistem sosial.
Paul B. Horton dan Chester L. Hunt, stratifikasi yakni sistem perbedaan status yang berlaku dalam suatu masyarakat.
 Soerjono Soekanto, kata stratification berasal dari kata stratum (jamaknya: strata yang berarti lapisan), stratifikasi sosial atau lapisan masyarakat merupakan pembedaan posisi seorang atau suatu kelompok dalam kedudukan yang berbeda-beda secara vertikal.[3]
Dalam buku Sosiologi karangan Duncan Mitchel, stratifikasi sosial menurut Karl Mark adalah suatu fenomena yang terjadi sejak dulu kala mengenai pengelompokan berdasarkan kelas sosialnya. Selanjutnya, Karl Mark  bahwa Eropa terbagi dalam masyarakat yang mempunyai struktur kelas; dalam abad pertengahan, masyarakat terbagi atas beberapa estate, estate merupakan suatu bentuk piramid yang lebar pangkalnya dengan raja berada pada puncaknya.[4]
Stratifikasi dapat terjadi dengan sendirinya sebagai bagian dari proses pertumbuhan masyarakat, juga dapat dibentuk untuk tercapainya tujuan bersama. Faktor yang menyebabkan stratifikasi sosial dapat tumbuh dengan sendirinya adalah kepandaian, faktor usia, harta, dan sistem kekerabatan. Dan stratifikasi yang terjadi sebab dibentuk untuk tujuan bersama, yanki semisal pembentukan organisasi dalam suatu masyarakat. Dan dari kedua pembentukan tersebut maka akan memunculkan jenis stratifikasi yang akan dijelaskan dibawah.
1. Jenis Stratifikasi Sosial
a.  Stratifikasi yang Terjadi dengan Sendirinya Bedasarkan .
1) Age Statification
Dalam stratifikasi berdasarkan usia ini, dimana anggota masyarakat yang berusia dini mendapatkan perbedaan hak dan kewajiban dari masyarakat yang berusia lebih tua. Bahkan dalam masyarakat tertentu, anak sulung mempunyai posisi yang lebih dibanding anak sulung.
2) Senioritas
Dalam pembahsan senioritas ini menyangkut usia dan jenjang lamanya pengalaman dalam masyarakat sosial tertentu. Dalam dunia kelembagaan misalnya, secara tidak langsung ada bagian-bagian kepemimpinan lembaga akan diisi oleh orang yang lebih tua atau berpengalaman luas.
3) Sex Stratificaton
Perbedaan jenis kelamin juga sangat mempengaruhi perbedaan status, ini juga sangat dipengaruhi oleh tradisi dan ajaran harkat dan martabat pria dan wanita.
3) Sistem Kekerabatan
Pada umumnya dalam suatu kekerabatan terdapat perbedaan hak dan kewajiaban antara ayah, ibu, kakak, dan adik misalnya. Maka dari situ akan timbul status sosial yang berbeda-beda yang bersangkutan dengan hak dan kewajibannya.
b. Stratifikasi yang Dibentuk untuk Tujuan Bersama
1) Stratifikasi dalam Pekerjaan
Dalam stratifkikasi ini sangat tampak pada instansi atau organisasi yang kelola secara modern. Misalnya saja ada bos dengan bawahan, dosen dengan asisten dosen, dan lain sebagainya.
2) Stratifikasi dalam Bidang Ekonomi
Dalam hal ekonomi inilah stratifikasi sangat menonjol di setiap masyarakat. Sebab kebanyakan dari masyarakat dimanapun berada menganggap akan terjadinya pembedaan stratifikasi sosial berdasarkan kekayaan dan material.
3) Stratifikasi dalam Pendidikan
Bagi orang yang mampu menyelesaikan pendidikan formalnya hingga tuntas, maka akan mendapat hak dan kewajiban yang lebih beragam dibandingkan denganorang yang hanya menamatkan pendidikannya ditingkat dasar. Dan dari situlah akan menentukan kelas sosial yang mereka tempati.
stratifikasi sosial ini sangat luas sebab stratifikasi sosial tersebut meliki beberapa fungsi. Diantaranya,
1.Untuk memberikan kemudahan dalam pembagian kerja yang jelas, sehingga memudahkan masing-masing individu menjalankan tugas-tugasnya,
2. Untuk memudahkan dalam pemberian penghargaan baik dalam bentuk uang, prestise maupun kekuasaan.
3. Sebagai fungsi sosial untuk memperoleh kedudukannya tidak berdasarkan atas dasar reward.
Dari uraian diatas dapat  dikatakan, secara umum stratifikasi adalah suatu sistem pengkelasan manusia dalam beberapa lapisan. Yang didasarkan pada kedudukan yang diperoleh melalui serangkaian usaha dan kepiawaian seseorang dalam melangsungkan interaksi dan beberapa fungsi di dalam masyarakat. Dan setiap masyarakat dimana pun yang berada dalam suatu lingkup geografi dan budaya tertentu pada dasarnya memiliki struktur sosial yang berbeda satu sama lainnya.
B. Individu dan Masyarakat
1.    Individu
Kata “individu” berasal dari kata latin, yaitu individuum, berarti “yang tak terbagi”.[5] Dalam bahasa Perancis, yakni indivire berarti makhluk individual yang tidak dapat dibagi lagi. [6]
Secara istilah individu adalah seorang manusia yang tidak hanya memiliki peranan-peranan yang khas di lingkungan sosialnya, melainkan juga mempunyai kepribadian serta pola tingkah laku spesifik tentang dirinya.[7]Sedangkan dalam kamus bahasa Indonesia yang sudah diperbaharui, individu berarti persorangan atau seorang diri.[8]
Jadi, kata individu tersebut merupakan penyebutan yang dipakai untuk menyatakan suatu kesatuan yang paling kecil dan terbatas atau penyebutan bagi pribadi perorangan.  Walaupun demikian, individu bukan berarti manusia sebagai suatu keseluruhan  yang tak dapat dibagi, melainkan sebagai kesatuan yang terbatas. Yaitu, sebagai manusia perorangan. Dimana dalam berbagai hal bersama-sama satu dengan lain, namun dalam banyak hal banyak pula perbedaannya.
Dalam pembahasan ilmu sosial paham individu menyangkut tabiatnya dengan kehidupan jiwa yang majemuk, yakni memegang peranan dalam pergaulan hidup manusia.
Dalam pembahasan lebih jauh individu juga terdiri dari dua dimensi, yaitu fisik dan psikis. Dan tiap dimensi pada dasarnya memiliki potensi lahiriah dan potensi batiniah. Potensi lahiriah yang mengacu pada potensi fisik dapat berupa gerakan anggota badan, pancaindera, dan lain-lainya, sedangkan potensi batiniah mengacu potensi psikis dapat berupa inteligensi, emosi, dan lain-lain.[9]
Individu juga merupakan seorang manusia yang tidak hanya memiliki peranan khas dalam lingkungan sosialnya, melainkan juga memiliki pola tingkah laku yang spesifik dari pribadinya. Individu dalam bertingkah laku menurut pola pribadinya, ada tiga kemungkinan: menyimpang dari norma kolektif, kehilangan indivisualitasnya atau takluk pada kolektif, dan mempengaruhi masyarakat seperti adanya tokoh pahlawan atau pengacau.[10]
Individu juga dalam hubungannya dengan manusia lain, kadangkala membawa misi pribadi dan kepentingan pribadi. Namun, ia harus membatasi kepentingan yang tidak yang tidak sejalan dengan kepentingan orang lain agar tidak terjadi konflik atau pertentangan yang akhirnya mengarah pada missosialisasi.[11]
C. Masyarakat
Berikut di bawah ini adalah beberapa pengertian masyarakat secara umum dari beberapa ahli sosiologi dunia.
1. Menurut Selo Sumardjan masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan.
2. Menurut Karl Marx masyarakat adalah suatu struktur yang menderita suatu ketegangan organisasi atau perkembangan akibat adanya pertentangan antara kelompok-kelompok yang terbagi secara ekonomi.
3. Menurut Emile Durkheim masyarakat merupakan suau kenyataan objektif pribadi-pribadi yang merupakan anggotanya.
4. Menurut Paul B. Horton & C. Hunt masyarakat merupakan kumpulan manusia yang relatif mandiri, hidup bersama-sama dalam waktu yang cukup lama, tinggal di suatu wilayah tertentu, mempunyai kebudayaan sama serta melakukan sebagian besar kegiatan di dalam kelompok atau kumpulan manusia tersebut.
Dorongan masyarakat yang dibina sejak lahir akan selalu menampakkan dirinya dalam berbagai bentuk, seperti bersosialisasi, meningkatkan diri pada anggota kelompoknya, dan lain sebagainya. Ini disebabkan tiap individu yang lahir kedunia ini telah memiliki atau membawa dorongan kemasyarakatan, dengan sendirinya ia selalu bermasyarakat dalam kehidupannya.[12]
Sedangakan pengertian masyarakat pedesaan menurut Sutardjo Kartodikusuma mengemukakan sebagai berikut: Desa adalah suatu kesatuan hukum dimana bertempat tinggal suatu masyarakat pemerintahan tersendiri.[13]Menurut Bintaro, desa merupakan perwujudan atau kesatuan goegrafi ,sosial, ekonomi, politik dan kultur yang terdapat ditempat itu (suatu daerah), dalam hubungan dan pengaruhnya secara timbal balik dengan daerah lain.
Dalam UU Nomor 32 Tahun 2004 disebutkan pengertian desa sebagai kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah, yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam system pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dari defenisi tersebut, sebenarnya desa merupakan bagian vital bagi keberadaan bangsa Indonesia. Vital karena desa merupakan satuan terkecil dari bangsa ini yang menunjukkan keragaman Indonesia. Selama ini terbukti keragaman tersebut telah menjadi kekuatan penyokong bagi tegak dan eksisnya bangsa. Dengan demikian penguatan desa menjadi hal yang tak bisa ditawar dan tak bisa dipisahkan dari pembangunan bangsa ini secara menyeluruh.


C. Perilaku Individu dalam Stratifikasi Sosial
Seperti yang telah ketahui bahwa stratifikasi sosial merupakan pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (secara hierarkis). Yang perwujudannya adalah adanya kelas-kelas tinggi dan kelas yang lebih rendah. Dan yang perlu digaris bawahi adalah perilaku individu dalam stratifikasi. Dimana, individu merupakan aktor utama dalam stratifikasi sosial sebab individu adalah anggota dari kelas-kelas sosial.
Stratifikasi akan membentuk perilaku individu dalam masyarakat sosial. Dimana, perilaku adalah suatu antar hubungan yang nyata antara rangsangan (stimuli) dan tanggapan (response) yang menyebabkan organisme bereaksi dengan cara yang sama bila rangsangan terjadi sesuatu.[14]
Esensi dari stratifikasi sosial itu sendiri adalah setiap individu memiliki beberapa posisi sosial dan masing-masing individu memerankan beberapa peran. Khususnya di daerah pedesaan. Layaknya masyarakat kota, dalam masyarakat pedesaan juga terdapat susunan pejabat dalam lingkupan masyarakat tersebut namun lebih kompleks. Yakni, ada kepala desa atau lurah, carik, ketua rukun warga, ketua rukun tetangga, dan kepala keluarga sebagai pemimpin terkecil dalam strata sosial.
Karena individu sebagai aktor utama dalam strtifikasi sosial seperti yang disebutkan sebelumnya, maka akan menimbulkan perilaku-perilaku yang muncul dari individu tersebut sebagai respon adanya stratifikasi sosial tersebut. Sebab stratifikasi atau pengkelasan baik yang terjadi karena sendirinya atau terjadi sebab disengaja memiliki ideologi yang sudah melekat pada diri individu dan akan mempengaruhi perilaku individu tersebut.
Misalnya saja stratifikasi dalam hal pendidikan, individu yang berpendidikan tinggi akan berperilaku akademis, akan selalu menjaga ucapannya, dan akan selalu berfikiran positif dalam berbagai hal. Mereka akan mencoba mencari jalan terbaik untuk memecahkan masalah, baik dengan negosiasi ataupun dengan cara bermusyawarah. Dan sebaliknya, individu dengan pendidikan rendah yang notabenya berwawasan sempit akan mudah sekali berfikiran negatif terhadap sesuatu dan dengan mudahnya pula akan menjastifikasi sesuatu tanpa mengetahui kejelasanya.
Dari fakta sosial yang banyak terjadi, sistem stratifikasi sangat berpengaruh pada pada perilaku individu baik secara psikis maupun non psikis. Dalam hal kekayaan misalnya, perilaku individu dari golongan mampu akan memiliki gaya hidup yang sangat individual dan sudah sangat mendarah daging. Sehingga, meminta atau memberi bantuan terhadap yang lainya bukanlah hal yang terlalu penting bagi mereka. Dan pada akhirnya bila pada suatu saat tidak dapat membiayai kehidupan mereka, individu tersebut akan mengalami “mental breakdown” atau semacam keputus asaan.
 Lain lagi bagi individu yang dari golongan menengah kebawah, biasanya memiliki perilaku bergotong-royong atau saling membutuhkan antara satu individu dengan individu lainya. Sehingga, timbul kebersamaan dalam mengahdapi sulitnya hidup.
Selain starifikasi sosial dapat mempengaruhi perilaku individu, stratifikasi sosial juga akan sangat berpengaruh pada sistem sosial individu tersebut. Seperti contoh, adanya program “orang tua asuh” yang santer digalakkan pemerintah dan program tersebut mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Hal ini menandakan keluarga dari kelas bawah, sama sekali tidak bisa membiayai pendidikan anaknya. Itu berarti setiap anak yang dilahirkan dari keluarga ini , akan mengalami kesulitan pendidikan kalau sekiranya pemerintah tidak campur tangan. Atau kalau salah seorang anggota keluarga sakit kesar dan harus dioperasi, besar kemungkinan mereka tidak bisa membiayai obat dan tempat di rumah sakit. Itu berarti, bahwa kelas sosial dimana mereka berada sekarang sangat mempengaruhi individu.[15]
D.  Analisa Perilaku  Individu Masyarakat Pedesaan dalam Stratifikasi Sosial
Disamping itu, fokus dari analisa ini adalah perilaku individu dalam masyarakat pedesaan khususnya petani. Masyarakat petani sendiri biasanya terbagi menjadi duan, yakni petani dengan ladang sendiri dan petani yang hanya bekerja pada pemilik ladang atau yang lebih dikenal dengan sebutan buruh tani. Perbedaan-perbedaan dibuat atas dasar kepemilikan ladang dan perbedaan-pernedaan ini bukan hanya menentukan pembagian kerja tetapi mempengaruhi semua perilaku individu tersebut.
Petani dengan ladang sendiri biasanya mendapatkan ladang tersebut dari warisan kedua orang tua, walaupun tak jarang oleh hasil uang mereka sendiri. Dimana, petani dengan ladang sendiri dapat menentukan sikap atas pilihannya. Petani tersebut mengetahui bagaimana mengelola sawahnya sendiri sehingga lebih produktif. Dan bagaimana menyikapi dinamika yang terjadi dalam pasar, kebijakan pemerintah daerah, dan lain sebagainya. Misalnya, menentukan harga gabah yang sesuai dengan pasaran. Tidak mahal namun juga tidak terlalu murah. Hal ini penting dilakukan sebagai seorang petani agar ia tidak rugi dalam menjual hasil produksinya dan bisa terus berkembang dan mengikuti persaingan pasar yang ada.
Dengan begitu, akan terbentuk perilaku dari petani pemilik ladang suka bekerja keras dan sebab memiliki otoritas atas ladang maka tidak jarang petani tersebut berperilaku dengan sosial tinggi.
Sedangkan para petani yang tak memiliki ladang sendiri hanya bekerja di waktu-waktu ketika musim tanam dan musim panen saja. Dari banyak waktu luangnya,  buruh tani tersebut akan menimbulkan perilaku yang kurang kreatif dan hanya menunggu. Sehingga tidak salah bila sebagian orang berpendapat penyebab kemisikinan masyarakat petani adalah banyaknya waktu-waktu menunggu.
Sehingga, hal ini memungkinkan untuk mengklasifikasikan individu-individu tersebut ke dalam kategori status peran. Dimana stratifikasi sosioal juga harus dilihat sebagai kenyataan yang memiliki dua sisi, yakni segi subyektif dan segi obyektif. Dilihat dari segi subyektif ini karena stratifikasi itu sangat erat kaitannya dengan diri seorang secara subyektif. Itu berarti bahwa stratifikasi sosial bukan sesuatu yang ada diluar diri individu, melainkan satu dengan dia.[16] Sedangkan dari segi obyektif, dapat dilihat dari hasil suatu sistem yang menggolongkan kedalam beberapa lapisan. Misalnya dalam mayarakat pedesaan, yakni perilaku petani pemilik ladang dan petani yang tidak memiliki ladang.

BAB III
KESIMPULAN

Stratifikasi sosial adalah pengkelasan, penggolongan, atau pembagian masyarakat secara vertikal. Dimana, Esensi dari stratifikasi sosial adalah setiap individu memiliki beberapa posisi sosial dan masing-masing orang memerankan beberapa peran. Sehingga hal ini memungkinkan untuk mengklasifikasikan individu-individu tersebut ke dalam kategori status-peran, dimana perangkingan didasarkan atas posisi relatif dari peran-peran yang mereka mainkan secara keseluruhan.
stratifikasi sosial juga merupakan pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (secara hierarkis). Yang perwujudannya adalah adanya kelas-kelas tinggi dan kelas yang lebih rendah. Dan yang perlu digaris bawahi adalah perilaku individu dalam stratifikasi. Dimana, individu merupakan aktor utama dalam stratifikasi sosial sebab individu adalah anggota dari kelas-kelas sosial.
Karena individu sebagai aktor utama dalam strtifikasi sosial, maka akan menimbulkan perilaku-perilaku yang muncul dari individu tersebut sebagai respon adanya stratifikasi sosial tersebut. Sebab stratifikasi atau pengkelasan baik yang terjadi karena sendirinya atau terjadi sebab disengaja memiliki ideologi yang sudah melekat pada diri individu dan akan mempengaruhi perilaku individu tersebut.
Selain itu, dorongan masyarakat yang dibina sejak lahir akan selalu menampakkan dirinya dalam berbagai bentuk, seperti bersosialisasi, meningkatkan diri pada anggota kelompoknya, dan lain sebagainya. Ini disebabkan tiap individu yang lahir kedunia ini telah memiliki atau membawa dorongan kemasyarakatan, dengan sendirinya ia selalu bermasyarakat dalam kehidupannya. Khusunya masyarakat pedesaan.
Selain itu kesimpulan dari analisis di atas adalah Dari banyak waktu luangnya para petani khususnya buruh tani, akan menimbulkan perilaku yang kurang kreatif dan hanya menunggu. Sehingga tidak salah bila sebagian orang berpendapat penyebab kemisikinan masyarakat petani adalah banyaknya waktu-waktu menunggu.

Daftar Pustaka
Ahmadi, Abu. 2003. Ilmu Sosial Dasar. Jakarta: Rineke Cipta.
Darmansyah. 2008. Kamus Bahasa Indonesia. Batavia Pers.
Darmansyah, dkk. 1986.  Ilmu Sosial Dasar. Surabaya: Usaha Nasional.
Lawang, Robert M. Z. 1994. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Universitas Terbuka.
Mannheim, Karl. 1986. Sosiologi Sistematis. Jakarta: Bina Aksara.
Mitchel, Dutcan (alih bahasa: Sahat Simamora), 1984.  Sosiologi. Jakarta: Bina Aksara.
Mawardi dan Nur Hidayati. 2000. IAD, ISD, dan IBD. Bandung: Pustaka Setia.
Soelaeman, M. Munandar. 2006. Ilmu Sosial Dasar. Bandung: Refika Aditama.
Soekanto, Soerjono. 2010. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers.
Saptono, dan Bambang Suteng Sulasmono.  2007. Sosiologi. Jakarta: PT. Phibeta Aneka Gama.
Tim Penyusun MKD IAIN Sunan Ampel Surabaya. 2011.  Ilmu Alamiah Dasar-Ilmu Sosial Dasar-Ilmu Budaya Dasar. Surabaya: IAIN SA  Press.














[1] Saptono dan Bambang Suteng Sulasmono, Sosiologi (Jakarta: PT. Phibeta Aneka Gama, 2007), 15.
[2] Robert M. Z. Lawang, Pengantar Sosiologi (Jakarta: Universitas Terbuka, 1994), 6.3.
[3] Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar ( Jakarta: Rajawali Pers, 2010), 197.
[4] Dutcan Mitchel (alih bahasa: Sahat Simamora), Sosiologi (Jakarta: Bina Aksara, 1984), 156.
[5]M. Munandar Soelaeman, Ilmu Sosial Dasar (Bandung: Refika Aditama, 2006), 113.
[6] Darmansyah dkk, Ilmu Sosial Dasar (Surabaya: Usaha Nasional, 1986). 68.
[7] Tim Penyusun MKD IAIN Sunan Ampel Surabaya, Ilmu Alamiah Dasar-Ilmu Sosial Dasar-Ilmu Budaya Dasar (Surabaya: IAIN SA  Press, 2011), 81.
[8] Darmansyah, Kamus Bahasa Indonesia ( Batavia Pers, 2008),
[9]Mawardi dan Nur Hidayati, IAD, ISD, dan IBD (Bandung: Pustaka Setia, 2000), 207.
[10] M. Munandar Soelaeman, Ilmu Sosial...114.
[11] Mawardi dan Nur Hidayati, IAD, ISD...218.
[12] Mawardi dan Nur Hidayati, IAD, ISD...217.
[13] Abu Ahmadi, Ilmu Sosial Dasar, (Jakarta: Rineke Cipta, 2003), 241.
[14] Karl Mannheim, Sosiologi Sistematis (Jakarta: Bina Aksara, 1986), 8.
[15] Robert M. Z. Lawang, Pengantar Sosiologi...9.16.
[16] Robert M. Z. Lawang, Pengantar Sosiologi..., 6.4.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar